DESAGLOBAL.ID – Indonesia merupakan negara pengimpor gandum tertinggi di dunia, berdasarkan data Kemenperin tahun 2017 jumlah impor gandum mencapai 8,10 juta ton. “Setiap tahunnya jumlah impor gandum Indonesia terus meningkat hingga saat ini. Bahkan di tahun ini jumlah impor gandum mencapai 18,8 juta ton,” tutur Riza dalam paparannya.

Riza Azyumarridha Azra merupakan founder & CEO Rumah Mocaf Indonesia yang menjadi narasumber inspiratif webinar inspirasi bisnis Intani seri ke 61. Webinar dengan tema ‘Olah Singkong Jadi Mocaf, Sejahterakan Petani dan Tembus Ekspor’ dipandu oleh Ila Failani dari Intani yang ditayangkan streaming di TANITV (https://youtu.be/HejLP0cKfK4), Rabu (02/03).

Riza menyoroti penggunaan tepung terigu oleh hampir semua orang dalam pembuatan berbagai makanan. “Mulai dari mie, roti, kue, dawet bahkan tempe mendoan yang hampir di setiap pertigaan di Banjarnegara ada, itu semua dari tepung terigu yang berbahan dasar gandum impor. Bayangkan jika semua itu diganti dengan mocaf, berapa banyak petani singkong yang sejahtera dan devisa negara terselamatkan.”

Menurut Riza, ”Mocaf ini terbukti lebih sehat dari tepung terigu, dengan indeks glikemik yang rendah serta bebas gluten. Ini menjadi salah satu alasan mocaf menjadi favorit di eropa, di sana masyarakatnya sudah lebih aware untuk mengkonsumi healthy food. Dan berharap kedepannya masyarakat Indonesia juga lebih banyak yang aware lagi serta mengubah mindset meraka akan singkong sebagai makanan kaum marginal.”

Mocaf sendiri memiliki pasar yang luas, tidak hanya nasional tetapi juga global. “Peluang pasar mocaf  masih terbuka lebar, produksi kami baru memenuhi permintaan pasar sebesar 0,1%,” ujar Riza.



Ketua umum INTANI-Insan Tani dan Nelayan Indonesia, Guntur Subagja dalam pengantarnya untuk webinar ini pun mengamini apa yang disampaikan Riza. “Memang benar saat ini kita masih jadi pengimpor gandum tertinggi di dunia. Padahal di satu sisi kita ini negara penghasil singkong terbesar kedua di dunia setelah Brazil.”

“Dibutuhkan inovasi untuk memaksimalkan potensi ini, bagaimana masyarakat mau membuat produk turunan dari singkong dan setidaknya mengkonversikan bahan baku impor diganti lokal, seperti menggunakan mocaf sebagai penganti tepung terigu,” tutur Guntur. 

Lebih lanjut ia mengatakan, ”Di Intani kami meyakini satu filosofi masyarakat desa ‘makan dari apa yang ditanam dan tanam apa yang kita makan’. Jika generasi milenial mau mengaplikasikan filosofi ini seperti Riza, saya optimis Indonesia mampu swasembada pangan bahkan bisa menjadi pengekspor pangan.”

Sebagai penutup Riza menyampaikan beberapa usulan agar mocaf mampu bersaing di tingkat nasional,  yaitu: hentikan atau batasi impor bahan baku terigu, cabut atau kurangi subsidi terigu, membuat kebijakan pusat maupun daerah secara serempak terkait pangan lokal (penggunaan mocaf), siapapun yang mengimpor terigu maka 1-2% wajib untuk membeli mocaf.

“Seperti kata Bung Karno, hidup matinya suatu bangsa ada di pangannya. Semaju-majunya suatu negara, dari segi teknologi maju jika tidak ada pangan akan mati kelaparan juga. Maka sudah saatnya bagi anak muda balik ke desa untuk mengembangkan sumberdaya pangan lokal yang masih banyak sekali,” pungkas Riza.* (na-dgn)