DESAGLOBAL.ID – Membangun ketahanan pangan nasional menjadi isu yang saat ini sangat aktif digaungkan Insan Tani dan Nelayan Indonesia – INTANI melalui webinar inspirasi bisnis Intani series yang diselenggarakan setiap Rabu secara daring via zoom dan streaming di TANITV.

“Untuk membangun ketahanan pangan tidak hanya dibutuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya bertani tetapi harus ada inovasi teknologi untuk mempercepat terwujudnya ketahanan pangan nasional,” terang ketua umum Intani, Guntur Subagja saat menyampaikan pengantarnya pada webinar inspirasi bisni Intani seri ke 80, Rabu (27/07).

Mengangkat tema ‘Hidroganik, Inovasi Bertani Organik’ dengan narasumber inspiratif Basiri, ketua P4S Bengkel di desa Kanigoro, Pagelaran, Malang – Jawa Timur. Webinar dipandu Ila Failani, Komite Informasi, Komunikasi, & Kerjasama antar Lembaga INTANI.

“Hidroganik ini gabungan dari sistem hidroponik dan organik. Menggunakan instalasi dengan sumber nutrisi utama pupuk organik dan air kolam sebagai tambahan nutrisi tanpa adanya filter,” jelas Basiri.


Dengan inovasi Basiri, tidak hanya komoditi hortikultura yang bisa ditanam tetapi juga pangan yaitu padi. “Biasanya padi identik ditanam di sawah berlumpur, dengan hidroganik tidak perlu lagi mengolah lahan dan di lahan sempit pun bisa tanam padi,” ujarnya.

Lahan seribu meter persegi yang dimiliki Basiri saat ini digunakan untuk pertanian hidroganik. “Sebagai contoh lahan seluas 300m2 ada 8 instalasi dengan ukuran 2 x 12 meter, tiap instalasi bisa panen 30kg padi dan 180kg ikan lele. Dari sini sudah bisa dilihat berapa omzet yang akan didapatkan dengan sistem hidroganik ini”.

Harga satu instalasi dipatok 10 juta rupiah dengan masa pengerjaan selama 2 minggu dan instalasi bisa digunakan 10 tahun lebih. 

“Saya terbuka bagi siapa saja yang ingin datang belajar membuat instalasi, perkiraan hanya butuh 6 juta rupiah kalau buat sendiri. Intinya saya ingin lebih banyak anak muda yang terjun ke pertanian bukan sekadar cari keuntungan materi,” jelas Basiri.

Menanggapi paparan Basiri, Guntur sangat tertarik untuk membuat duplikasi sistem hidroganik di perkotaan. “Pendekatan urban farming yang dikembangkan di Bengkel Mimpi ini sangat cocok untuk diduplikasi di perkotaan yang lahannya terbatas serta bisa menjadi satu solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan yang tinggi di sana”.

Menurut Guntur dengan hidroganik bisa menjadi solusi beberapa permasalahan di sektor pertanian. “Bertani tidak perlu lahan luas maupun mengolah lahan di sawah ini sangat menarik bagi milenial untuk bertani, lalu bisa meningkatkan produksi padi di perkotaan dengan lahan yang terbatas serta menjadi contoh integrated farming yang dilengkapi dengan eduwisata. Jadi sudah sepatutnya sistem ini diduplikasi di berbagai daerah lain".

“Bersama Intani kita wujudkan mimpi bagaimana di kota bisa memiliki ‘sawah’ yang banyak, sehingga bisa memenuhi aspek makro ketahanan pangan nasional,” pungkas Guntur.* (na-dgn)