DESAGLOBAL.ID – Untuk pemenuhan kebutuhan daging nasional, saat ini Indonesia masih bergantung pada impor. “Berdasarkan data yang kami peroleh setidaknya impor dari Australia saja mencapai 500 – 650 ribu ekor sapi setiap tahunnya,” terang M. Husni Tamrin saat membuka paparan sebagai narasumber inspiratif webinar inspirasi bisnis intani seri ke 110.

Khusus daerah Kalimantan Selatan menurut Husni kebutuhan daging sapi mencapai 5.000 ekor setiap bulan atau 60.000 setiap tahun.

“Bagi kami ini potensi yang besar, sehingga kami membentuk BUMP PT. Cahaya Abadi Petani pada 2017 untuk memulai usaha pembiakan sapi dengan sistem open grazing,” ujar Husni yang juga sebagai direktur utama BUMP PT. CAP.

Husni membangun kerja sama pembiakan dengan Indonesia-Australia Commercial Cattle Breeding Program (IACCB) sebanyak 111 ekor sapi. “Jadi dari manajemen sampai operasional kita diarahkan oleh IACCB,” ujarnya.

Untuk open grazing lahan yang digunakan kurang lebih 500 hektar, Husni mengatakan lahan itu sebagian miliki pribadi dan sewa. “Untuk kandang penggemukan ada lagi, lahannya berbeda dengan yang digunakan untuk open grazing,” ujarnya.

CAP juga membuka kemitraan yang bekerja sama dengan BSI untuk pembiayaannya dengan nilai kemitraan setiap paketnya hingga 50 juta rupiah.

“Nilai keuntungan yang bisa didapat para mitra sebesar 3-4jt perbulan,” ujarnya.


Husni yang juga menjadi pembina beberapa pesantren di Kalimantan Selatan serta Duta Petani Milenial Kementan RI 2020, sehingga banyak mitranya meliputi kelompok petani muda, pesantren dan perorangan.

“Total sapi yang kami kelola bersama mitra sudah mencapai 400 ekor, jadi kami masih terus membuka kemitraan untuk memenuhi kebutuhan di Kalimantan Selatan,” ujarnya.

Dengan menggunakan sistem open grazing Husni menuturkan biayanya jadi lebih murah. “Jika impor biaya operasionalnya bisa mencapai 40.000 – 45.000 rupiah per kg sedangkan ini hanya mengeluarkan biaya operasional 30.000 – 35.000 rupiah per kg,” jelasnya.

Selain pembiakan sapi, CAP yang berlokasi di Dusun Sungai Aris, Kab. Tanah Laut ini juga membuka pelatihan untuk pengolahan pupuk kompos serta mengelola beberapa jenis komoditi pertanian.

Ketua umum Intani Guntur Subagja turut menyampaikan dalam pengantarnya bahwa sistem open grazing bisa menjadi alternatif yang baik untuk mengatasi ketergantungan impor daging nasional.

“Memang dibutuhkan dukungan stakeholder terkait untuk mengatasi ketergantungan impor daging nasional, dan model bisnis yang dijalankan Husni sudah sangat baik dan patut untuk diduplikasi diberbagai daerah,” terang Guntur.

Webinar dengan tema ‘Pembiakan Sapi Sistem Open Grazing’ dipandu Ila Failani, direktur PT. Desa Digital Global dan turut dihadiri Prof. Muhammad Winugroho serta ratusan peserta dari berbagai daerah.*