DESAGLOBAL.ID - Muhammad Salahudin (28 tahun) atau Dede, berhasil membuktikan bahwa bisnis tanaman Hidroponik (menanam tanpa menggunakan media tanah dan biasanya menggunakan air saja, red) bisa menghasilkan cuan hingga ratusan juta rupiah. 

Dede mulai mencoba menanam tanaman hidroponik sejak tahun 2020. Tak pernah punya pengalaman sebelumnya, dengan modal inisiatif ia mencoba berkebun kecil-kecilan di rumah ketika pandemi Covid-19. 

"Untuk awal-awal, kendala dipenanaman, karena budidaya secara otodidak," ujar Dede saat ditemui oleh wartawan sukabumiupdate.com, di kebun hidroponik miliknya bernama 'Pohaci Farm', di Kampung Gudang, RT. 02/05, desa Balekembang, kecamatan Nagrak, kabupaten Sukabumi, Senin (31/1/2022). 

Dede lalu bergabung dengan komunitas pecinta hidroponik di Sukabumi. Sejak bergabung dengan komunitas, ia mempunyai ide dan gagasan untuk mengembangkan hobinya tersebut menjadi bisnis yang menguntungkan.

"Dari sana (komunitas) saya terpikirkan untuk membuat Green House (rumah kaca untuk menanam tumbuhan, red)," kata Dede.

Green House pertamanya dibangun di Kampung Sinagar Kolot, desa Nagrak Utara. Selama beberapa tahun, Dede melakukan pengembangan green house dengan cara memberdayakan lahan-lahan di wilayah Nagrak yang tidak produktif.

"Lahan orang yang tidak produktif saya sewa, jadi sistemnya sekarang kita kontrak," terang Dede.

Saat ini, Dede telah memiliki lima green house, satu kebun pepaya dan satu kebun kopi. Untuk tanaman hidroponik yang ia tanam terdiri dari sejumlah sayuran seperti sawi, selada hingga buah melon dan lainnya.

Para pemuda di Nagrak Kabupaten Sukabumi sedang menanam sayuran Hidroponik. - (Istimewa)

Ia tak sendiri dalam mengurus kebun hidroponiknya, Dede memberdayakan para pemuda setempat untuk terlibat sekaligus belajar tentang hidroponik. 

"Saya berdayakan anak-anak milenial untuk mengurus kebun, alasannya karena anak muda masih punya semangat," ujar Dede. 

Produk hidroponik milik Dede sudah dipasarkan ke sejumlah hotel, rumah makan, serta swalayan yang ada di Sukabumi maupun luar daerah seperti Jabodetabek. Selain itu, untuk produksi kopi, Dede telah memiliki pelanggan hingga ke luar negeri. 

"Biji kopinya kami ekspor ke luar negeri, seperti Belanda, Perancis dan Kanada," ucap Dede. 

Dalam setahun, Dede bisa melakukan panen sebanyak tiga hingga empat kali. Omzetnya pun tak main-main, dalam setahun ia mampu menghasilkan cuan sekira Rp 600-800 juta.

Dede berharap, apa yang ia lakukan dapat menjadi inspirasi bagi para pemuda lainnya untuk mengembangkan budidaya tanaman hidroponik. 

"Saya berharap di setiap desa yang ada di kecamatan Nagrak ini mempunyai green house. Selain itu, kita ingin membangun minat generasi milenial di bidang pertanian," pungkasnya. (sumber: sukabumiupdate.com)*nr-dgn